Awalnya, hadirnya burung-burung ini dikira sebagai hama oleh warga. Mereka takut produksi buah melinjo alami penurunan akibat pohonnya jadikan tempat menempatkan sarang. Mereka juga cemas kesehatan mereka terganggu akibat kotoran burung yang terdapat banyak di pekarangan serta berjalan-jalan di dusun. Tersebut penyebabnya, sebagian warga pernah coba mengusir kuntul-kuntul ini. Alih-alih pergi, mereka jadi berkembang biak serta jumlahnya jadi bertambah banyak. Hingga pada akhirnya, warga sadar serta ingin sharing tempat hidup bersama mereka. Tidak ada lagi yang ingin memburu burung-burung ini serta papan-papan peringatan tidak untuk berburu burung di ketingan juga dipasang di sebagian sudutnya. Bahkan juga, saat anakan kuntul-kuntul ini terjatuh dari sarangnya, warga bersedia menjaga sampai pulih serta siap dilepaskan kembali pada habitatnya.

hunting tiket murah ketingan, untuk beberapa peneliti satwa serta penggemar burung, ketingan adalah surga. Mencermati tingkah polah kuntul-kuntul yang jumlahnya meraih 7. 000 ekor ini tidak pernah menjemukan. Bahkan juga warga sekitaran yang sudah hidup bertahun-tahun bersama mereka juga masih tetap senantiasa mencermatinya. Warga hafal benar waktu kuntul-kuntul ini mencari makan, bikin sarang baru, musim kawin, musim menetas serta bermigrasi. Benar, pada bulan september kuntul-kuntul ini akan bermigrasi, meninggalkan ketingan di sebagian waktu. Nada mereka akan tidak terdengar ramai serta tidak ada juga yang pagi-pagi temani petani memproses sawahnya. Mereka hilang sesaat, membiarkan warga kembali pada kehidupan normal seperti sebelum burung-burung ini datang. Barulah pada pertengahan bulan oktober, kuntul-kuntul ini pulang, kembali bikin sarang serta hidup seperti umumnya.

Selain mencermati burung, acara teratur merti bumi yang senantiasa diadakan pada bulan september juga turut menarik perhatian. Pada acara itu, beragam pertunjukan seni serta budaya seperti pagelaran wayang, kirab serta kenduri sebagai bentuk rasa syukur pada sang pencipta berdasar hasil bumi yang melimpah juga bisa disaksikan. Mengambil keputusan untuk tinggal disana sekian hari serta turut larut dalam euforianya pasti sangat mengasyikkan. Bila tidak pernah datang di bulan september, coba live in sekian hari sebelum saat panen raya serta turut merayakan wiwitan (syukuran sebelum saat panen padi) atau datang sebelum saat tanam serta ikuti kebiasaan angler (selamatan sebelum saat tanam padi). Selain pada acara-acara itu, desa wisata ketingan tetaplah terbuka untuk mereka yang menginginkan tahu serta belajar banyak mengenai burung-burung ini sambil nikmati kesenian tradisional berbentuk gejog lesung, jathilan sampai pertunjukan pek bung (alat musik tradisional yang ditabuh serta terbuat dari kelenting).